Jumat, 02 April 2010

AYAM KAMPUNG

Bicara ayam kampung, asosiasi anda bisa kemana-mana, tergantung sudut pandang. Bisa positif, bisa negative. Rubah sudut pandang anda jadi positif, agar anda jadi bahagia. Begitu yang ku dapat dari Louis Sastrawijaya si Motivator saat memberikan Inhouse Traning di Tanah Abang beberapa waktu yang lalu dan yang kubaca dari buku 100% MOTIVATED! Karangannya. (Pelajaran ke 1).

Sisi positip dari Ayam Kampung adalah : dagingnya enak, telurnya mengandung protein lebih banyak. Harganya lebih mahal dibanding Ayam Ras. High risk, high return. Hidup itu jangan dibikin susah, kalau mau enak yaa mahal ! Begitu celoteh temanku waktu ngobrolin kuliner. Rasa bintang lima, harga kaki lima. Emang ada ? (Pelajaran ke 2)

Berangkat dari statement yang sederhana tentang kelebihan Ayam Kampung, melayang-layang dibenakku pertanyaan. Kok nggak dipelihara intensip seperti ayam negeri?. Daging dan telurnya mahal!. Akhirnya aku mencoba memelihara Ayam Kampung dan banyak pelajaran yang bisa diambil. Begini ceitanya.

Ayam Kampung memperbanyak keturunan dengan cara mengerami telurnya. Telur menetas karena kehangatan. Oleh sebab itu sangkar bagian dalam kulapis dengan seng dan kemudian kumasukan rumput kering. Induk ayam senang bertelur disangkar yang empuk, bahkan ayam tetanggapun ikut bertelur disana. Semua telur yang dierami menetas, mungkin efek dari seng yang membawa kehangatan. Soal yang enak-enak, binatangpun suka, apalagi manusia (Pelajaran ke 3).

Setelah ayam menetas, aku teringat lagu waktu kecil : Anak ayam turun sepuluh, mati satu tinggal sembilan dstnya. Agar tidak mati, semua anak ayam aku masukan kedalam peti ukuran 1 x 1 x 1 meter. Induknya kumandiin agar kawin lagi supaya cepat bertelur. Apa yang terjadi ? Didalam peti anaknya menjerit: cit-cit-cit (Seperti Anak ayam kehilangan induk. Kenyataan !). Satu minggu induknya merepet disamping peti karena kehilangan anaknya. Siapa yang mau kehilangan anak ? (Pelajaran ke 4)

Dalam peti kupasang bola lampu yang ditutupi dengan seng (seperti Kap lampu petromak). Dimalam hari semua anak ayam tidur dibawah kap tersebut mencari kehangatan. Makanya anak ayam tidur dibawah ketiak induknya, pernah lihat kan! Kalau masa kecil sampai dewasa anda hidup di Metropolitan mungkin nggak pernah liat, percaya deh, aku nggak bohong he he he. Bahasa Tipce : Trust. Saling menghargai dan bekerja sama. (Pelajaran ke 5)

Setelah anak ayam berkembang menjadi sebesar burung Merpati, semuanya ku lepas ke alam bebas. Apa yang terjadi ? Sedih hatiku, mengapa kulepas?. Hanya dalam tempo satu hari, semua ayamku habis dimakan anjing dan kucing karena ayamku tidak pernah diajarkan membelah diri. Di dalam peti hidup dimanja dapat makan dan minum setiap hari. Mungkin ini bisa terjadi juga buat anak yang dimanja oleh orang tuanya. Berkaca dari itu, anda tidak boleh berharap banyak kepada pegawai baru untuk langsung tancap gas, perlu dibimbing dulu seperti anak ayam tadi ha ha ha. (Pelajaran ke 6).

Bagaimana dengan Induknya yang kumandiin, apa memang cepat kawin ? ha ha ha.

Ternyata dia bermesra-mesraan dulu dengan si Jago, si Jagopun tau bahwa si betina habis mengerami, belum bersih kali ya ! Masa nipas ?. Kalau manusia yang nggak kuat iman, sudah Poligami. Kalah sama ayam ha ha ha.

Ayam kampung itu tidak produktip bertelurnya, hanya 120 buitr dalam setahun. Beda dengan ayam ras yang bertelur 260 buir per tahun (www.sentralternak.com). Inilah jawaban dari pertanyaan mengapa ayam kampung tidak dipelihara intensip. Cost and benefitnya nggak mecing. Alias rugi atau bahasa si tukang kredit, nggak feasible. (Pelajaran ke 7).

Ayam kampung kok dibahas ! Ada-ada wae he he he

*) merepet (bahasa melayu) = marah-marah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar